![]() |
| Dokumentasi pribadi |
Secara garis besar buku ini membahas mengenai kewajiban orang tua terhadap anak, dan hak-hak anak yang harus dipenuhi oleh orang tua. Memang menjadi orang itu adalah suatu peran yang tidak mudah, namun sangat bisa untuk dipelajari dengan kita banyak mencari tau ilmu dan juga pengetahuan mengenai bidang terkait. Hari minggu tanggal 25 Mei 2025 saya berkunjung ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dan berkesempatan untuk membaca buku yang saya rekomendasi untuk bisa dibaca oleh semua kalangan. Buku itu berjudul "Dosa-Dosa Orang Tua Terhadap Anak", awal pertama baca judulnya kok unik ya?, dan pada akhirnya memutuskan untuk membacanya. Kali ini saya membaca dengan teknik skimming atau membaca secara cepat dan hanya mengambil poin pentingnya saja.
Berikut ini beberapa point yang saya rasa penting untuk bisa khalayak ramai ketahui:
A. Tahapan Kehidupan Anak
1. Perkembangan Fisik
2. Perkembangan Kognitif
3. Perkembanga Emosi
4. Perkembangan Psikososial
5. Perkembangan Moral
6. Perkembangan Kesadaran Agama
Dari keenam tahapan tersebut semuanya penting, namun di sini saya tidak menjabarkan secara keseluruhan. Karena teknik membaca yang saya pakai diawal.
Perkembangan Kognitif
Kemampuan individu untuk berpikir lebih kompleks, meliputi:
- Kemampuan berpikir (thinking)
- Kemampuan memecahkan masalah (problem solving)
- Mengambil keputusan (decision making)
- Kecerdasan (intelligence)
- Bakat (aptitude)
Perkembangan Emosi / Afektif
- Sebuah respons atas apa yang dirasakan oleh individu
- Anak yang memiliki emosi yang sehat akan mampu menyadari, mengarahkan dan mengendalikan perasaan dengan tepat.
Perkembangan Psikososial
- Berperilaku atau bersikap sesuai dengan harapan sosial yang berlaku di lingkungan sosialnya.
- Terdapat 3 komponen:
1. Berperilaku sesuai dengan cara yang disetujui secara sosial.
2. Memiliki peranan yang disetujui secara sosial.
3. Pengembangan sikap sosial.
- Menurut Hurlock, indikator perilaku sosial dikatakan sukses jika ada:
1. Kerjasama
2. Persaingan yang sehat
3. Kemauan berbagi
4. Memiliki rasa simpati
5. Memiliki rasa empati
6. Persahabatan
Perkembangan Moral:
Kemauan untuk menerima dan melaksanakan peraturan dan nilai-nilai, diantaranya:
1. Berbuat baik
2. Memelihara kebersihan
3. Memelihara ketertiban
4. Menjauhi perbuatan dosa, dan lain-lain
Perkembangan Kesadaran Beragama
- Manusia diberi kesadaran secara naluriah untuk mengenal Tuhan dan menjalankan ajaran-Nya
- Fitrah manusia di juluki sebagai homo devians, yakni makhluk yang bertuhan atau beragama
- Ritual ibadah dan kesalehan sosial
B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
- Faktor Internal: Genetik dan Hormon
- Faktor Eksternal
1. Pengaruh keluarga: 70% perilaku anak adalah hasil dari mirroring perilaku orang tua
2. Kelompok teman sebaya
3. Pengalaman hidup
4. Kesehatan lingkungan
C. Apakah Mendidik itu?
Ki Hajar Dewantara, mengartikan pendidikan sebagai:
"Segala daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta jasmani anak agar dapat memajukan kesempurnaan hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya."
Selain itu, pendidikan merupakan proses tiada henti sejak manusia dilahirkan hingga akhir hayatnya. Terdapat juga perbedaan antara mengajar dan mendidik.
D. Tipe-Tipe Pola Asuh
Terdapat beberapa tipe-tipe pola asuh, yang mana terdiri dari pola asuh mainstream dalam dunia psikologi dan pola asuh di era milenial, berikut uraiannya:
Pola asuh mainstream dalam dunia psikologi
1. Pola Asuh Otoriter: bentuk pengasuhan di mana orang tua menuntut anak untuk mengikuti aturan secara ketat tanpa memberikan kesempatan untuk berpendapat atau berdiskusi.
2. Pola Asuh Permisif: bentuk pengasuhan yang ditandai dengan minimnya aturan dan ekspektasi terhadap perilaku anak (kurang memberi batasan dan cenderung memprioritaskan keinginan anak).
3. Pola Asuh Demokratis: bentuk pengasuhan yang mengedepankan komunikasi dua arah, memberikan kebebasan yang bertanggung jawab dan menghargai pendapat anak.
Pola asuh di era milenial
4. Pola Asuh Narsistik: bentuk pengasuhan yang mana orang tua cenderung mementingkan diri sendiri, melihat anak sebagai perpanjangan diri mereka, dan sering mengendalikan anak.
5. Pola Asuh Helikopter: bentuk pengasuhan di mana orang tua terlalu protektif dan terlibat dalam kehidupan anak, layaknya helikopter yang terus mengawasi dan mengontrol dari atas.
6. Pola Asuh Meracuni: bentuk pengasuhan yang merusak dan berpotensi merugikan perkembangan mental dan emosional anak.
7. Pola Asuh Lumba-Lumba: bentuk pengasuhan yang menekankan keseimbangan antara ketegasan dan fleksibilitas.
8. Pola Asuh Harimau: bentuk pengasuhan yang sangat ketat, di mana orang tua menetapkan standar yang sangat tinggi untuk anak-anak mereka, sering kali berfokus terutama pada keberhasilan akademis dan disiplin.
9. Pola Asuh Ubur-Ubur: bentuk pengasuhan yang lebih santai dan fleksibel, di mana orang tua memberikan kebebasan dan kemandirian pada anak-anak mereka, dengan sedikit aturan dan harapan.
10. Pola Asuh Adil Gender: bentuk pengasuhan yang menekankan pada kesetaraan dan perlakuan yang sama terhadap anak, baik laki-laki maupun perempuan, tanpa memandang jenis kelamin.
Harapannya kita bisa menerapkan pola asuh demokratis, lumba-lumba, dan adil gender.
E. Marah yang Sehat
Terdapat penggalan kutipan mengenai topik terkait, yakni:
"Siapa pun bisa marah. Marah itu mudah. Akan tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik bukanlah hal yang mudah." - Aristoteles
Lalu bagaimana cara marah yang sehat?
1. Perbaiki mindset tentang anak
2. Lakukan komunikasi yang baik dan bangun kedekatan emosional
3. Membangun karakter dengan cara saling bertukar cerita
4. Menarik napas ketika marah. Rasulullah saw bersabda, "Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam." (HR. Ahmad)
5. Berdoa
6. Beri peringatan
7. Time out
8. Tunjukkan dengan jelas letak kesalahan
9. Pelankan suara, namun tetap tegas
10. Berikan punishment dan reward
11. No labeling
12. Jalin komunikasi secara non-verbal
13. Kelola aspek spiritual
F. Hakikat Kecerdasan
"Semua bisa menjadi cerdas dan sukses dengan cara masing-masing."
1. Kecerdasan linguistik: dikenal juga dengan kecerdasan verbal, cocok bekerja sebagai jurnalis, penulis, penerjemah editor, pengacara, guru, ahli bahasa.
2. Kecerdasan Matematis: bidang pekerjaan yang cocok yakni sebagai akuntan, analis keuangan, programmer, insinyur, dan ilmuwan.
3. Kecerdasan Visual Spasial: bidang pekerjaan yang cocok yakni sebagai, arsitek, desain grafis, fotografer, dan seniman.
4. Kecerdasan Kinestetik Jasmani: bidang pekerjaan yang cocok yakni sebagai, atlet, penari, aktor, mekanik, perajin, guru olahraga, terapis fisik, dan bahkan polisi atau tentara.
5. Kecerdasan Musikal: bidang pekerjaan yang cocok yakni sebagai, penyanyi, pemain alat musik, komposer, penulis lagu, atau guru musik.
6. Kecerdasan Interpersonal: bidang pekerjaan yang cocok yakni sebagai, konsultan bisnis, psikolog, guru, terapis, diplomat, tenaga penjualan, humas, customer service, dan HRD.
7. Kecerdasan Intrapersonal: bidang pekerjaan yang cocok yakni sebagai, penulis, filsuf, psikolog, konselor, dan wirausahawan.
8. Kecerdasan Naturalis: bidang pekerjaan yang cocok yakni sebagai, ahli biologi, peneliti alam, dokter hewan, petani, ahli kehutanan, dan sejenisnya.
9. Kecerdasan Eksistensial: bidang pekerjaan yang cocok yakni sebagai, ahli filsafat, psikolog, konselor, tokoh agama, dan motivator.
G. Orang Tua Generasi Internet
Di era digital ini, yang mana dalam kehidupan kita sehari-hari sudah dimudahkan dengan adanya teknologi. Namun, teknologi seperti halnya dua mata pisau, dia bisa memberikan dampak positif dan bisa dampak negatif. Dampak negatif yang sama-sama kita ketahui bahwa negara Indonesia menjadi menjadi negara yang memiliki angka tertinggi terkait lamanya penggunakan gadget dan juga media sosial. Terlebih fenomena anak-anak yang sudah diberi akses untuk menggunakan gadget oleh orang tuanya. Adapun idealnya, seorang anak bisa diberi akses terhadap gadget minimal di umur 14 tahun.
Mungkin para orang tua generasi internet mengalami kebingungan terkait kegiatan apa atau hiburan apa yang bisa dilakukan oleh anak mereka ketika masih kecil. Berikut beberapa rekomendasinya:
1. Mengajak anak pergi ke perpustakaan atau toko buku
2. Melakukan kegiatan bercocok tanam
3. Belajar menulis
4. Mengajak anak jalan-jalan
5. Mengajak anak bersepeda
6. Mendengarkan radio
7. Membuat makanan bersama anak
8. Melakukan kegiatan membaca bersama anak
9. Mengajak anak mengikuti kegiatan bakti sosial
10. Ajarkan anak terkait hal-hal yang edukatif, contoh: mengaji, berhitung dll
11. Mengajarkan anak sejak dini untuk merapikan rumah
12. Bermain game tradisional
13. Membuat kerajinan tangan bersama anak
Sebagai tambahan, ajarkan anak sejak dini untuk menjadi pribadi yang kuat. Jangan sampai sebaliknya malah justru Adversity Quotient yakni, "tidak memiliki kecerdasan daya juang, bertahan hidup, dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi."
Demikian pembahasan mengenai review buku "Dosa-Dosa Orang Tua Terhadap Anak" versi saya. Dan saya begitu berekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh semua kalangan, terkhusus para orang tua, teman-teman yang baru menikah, dan kalian yang memiliki rencana untuk menikah dan mendidik anak kelak. Terima kasih atas waktunya, saya sangat terbuka akan kritik, saran, atau mungkin pertanyaan.📌🌝
Daftar Pustaka / Sumber:
Buku Dosa-Dosa Orang Tua Terhadap Anak
Internet, Google Search

Comments
Post a Comment