Opini Saya

Ilmu Pengetahuan dan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas

Sumber daya manusia yang berkualitas menjadi salah satu modal agar kita dapat bersaing di kancah internasional. Lalu bagaimana dengan keadaan sumber daya manusia negara kita terhadap salah satu aspek yakni mengenai persoalan minat membaca.

Saya pernah membaca buku karya dari Ahmed Hulusi yang berjudul “Tafsir Sufi yang Unik Menyingkap Sandi Al-Quran (Decoding The Quran)”, terdapat ulasan mengenai pemaknaan nama-nama Allah dan diantaranya adalah AN-NUR yang artinya Ilmu yang menjadi sumber dan esensi dari segala sesuatu! Esensi dari segala sesuatu adalah Nur, segala sesuatu terdiri dari ilmu. Kehidupan ada dengan ilmu. Orang-orang yang berilmu adalah yang hidup selama-lamanya (Hayy), sedangkan orang-orang yang tidak memiliki ilmu bagaikan mayat hidup. Dari kutipan tersebut sudah jelas tergambarkan bahwa ilmu adalah suatu hal yang penting untuk semua insan manusia miliki. Lalu bagaimana kita dapat memiliki hal tersebut? Ya, salah satunya adalah dengan kita membaca. 

Membaca menjadi salah satu cara yang paling terbaik untuk kita mengetahui banyak hal mengenai ilmu pengetahuan, sekaligus sebagai salah satu simbol peradaban suatu bangsa. Dengan membaca kita juga jadi tahu banyak hal, dan semakin kita tahu banyak hal semakin kita menjadi tidak tahu banyak hal, karena saking luasnya ilmu pengetahuan itu. Membaca juga membuat kita memiliki bekal untuk dapat ikut aktif berpartisipasi pada sebuah forum diskusi yang tidak hanya mengandalkan pembicaraan tanpa dasar ilmu yang baik. Dan dengan membaca tentunya kita dapat terus mengembangkan potensi diri yang ada seperti menciptakan ide, inovasi, dan gagasan yang baik.

Namun, dibalik penting dan kebermanfaatan dari aktivitas membaca yang dapat kita ambil menurut data mengenai aktivitas minat membaca di Indonesia masih tergolong rendah yakni 37,32% menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Indeks Aktivitas Literasi Membaca 34 Provinsi tahun 2019. Perlu disadari pula bahwa wilayah Indonesia yang luas dan terdapat banyak daerah-daerah terpelosok dan terpencil yang mungkin menjadi salah satu faktor mengapa angka minat membaca di Indonesia rendah. 

Dan perlu kita sadari pula bahwa persoalan pemerataan mengenai akses bacaan seperti perpustakaan di setiap provinsi sampai pada wilayah yang terpencil dan terpelosok harus segera kita benahi. Terlepas dari masih minimnya fasilitas terkait minat membaca di daerah terpencil dan terpelosok, perlu kiranya kita menggali potensi lain juga karena di setiap provinsi tentunya memiliki ciri khas budayanya masing-masing yang diharapkan dapat sedikit memberikan dampak pada tema bacaan yang diminati oleh masing-masing provinsi tersebut. 

Balik lagi ke persoalan mengenai sumber daya manusia yang berkualitas bahwa saya disini juga ingin sedikit bercerita mengenai pengalaman yang pernah saya alami semasa kuliah, dan tentunya pengalaman saya ini relevan dengan topik pembahasan. Semasa saya kuliah keharusan memiliki buku untuk setiap mata kuliah dan sering membaca sudah menjadi suatu keharusan. Karena dengan kita memiliki banyak buku dan membacanya tentu kita mempunyai modal untuk dapat menghidupkan suasana kelas dengan aktivitas diskusi dengan sesama mahasiswa dan dosen sebagai fasilitator. Tetapi pada faktanya tidak demikian, semasa saya kuliah teman-teman saya kebanyakan hanya mengandalkan smartphone mereka untuk sarana penunjang perkuliahan. Untuk keperluan tugas, menjawab pertanyaan pada saat sedang diskusi dll. Ya, bagi saya hal demikian sah-sah saja selagi bisa menunjang produktivitas mereka di perkuliahan, tapi alangkah baiknya jika kepemilikan buku bacaan dan aktivitas membaca lebih diutamakan. Karena memang balik lagi kita juga tidak dapat menghindari adanya teknologi yang sekarang berkembang pesat, segala macam hal dapat kita akses dengan mudah. Tetapi, demi peningkatan kualitas sumber daya manusia bangsa ini, seharusnya persoalan minat membaca harus menjadi sebuah budaya apalagi di perkotaan yang tentunya akses terhadap buku bacaan jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan wilayah yang terpencil dan terpelosok. 

Dari sedikit uraian pengalaman saya tersebut, saya pribadi tidak ada maksud untuk membuka aib atau menjelekkan, hanya saja keadaan yang terjadi memang begitu adanya. Ya, walaupun memang tidak semua mahasiswa seperti itu. Para mahasiswa yang menjadi salah sumber daya manusia yang memiliki label sebagai agent of change harus meningkatkan potensi diri dengan salah satunya memperbanyak bahan bacaan dan dapat menebarkan hal tersebut kepada banyak kalangan agar menjadi sebuah budaya. 

Perpustakaan menjadi salah satu tempat terbaik untuk dapat memfasilitasi persoalan minat membaca guna peningkatan sumber daya manusia, sekaligus sebagai icon yang fleksibel untuk dapat diakses oleh semua kalangan. Perpustakaan harus dapat bertumbuh kembang sampai wilayah yang terpencil dan terpelosok sekalipun. Peningkatan sumber daya alam yang berkualitas haruslah sampai pada semua kalangan masyarakat tanpa terkecuali. 

Diharapkan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui aspek peningkatan minat membaca, dapat membuat mereka cakap dalam berfikir dan berbicara. Berfikir dan berbicara yang berlandaskan pada ilmu pengetahuan pastinya akan berbeda apabila dibandingkan dengan sebaliknya. Apalagi dari zaman ke zaman sampai pada zaman sekarang dimana teknologi berkembang dengan pesat dan berdampak pula pada keadaan aktivitas membaca masyarakat. Di satu sisi peran perpustakaan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan sebagai simbol peradaban, perlu kiranya harus melibatkan teknologi didalam peningkatan kualitas perpustakaan itu sendiri. seperti misalnya buku yang dapat dibaca secara  online, dan menurut saya itu juga harus dikembangkan. Ya, bisa dikatakan bahwa kita harus bisa memanfaatkan teknologi untuk penunjang kehidupan kita, bukan malah kita yang dimanfaatkan oleh teknologi. 

Lalu, saya juga teringkat mengenai pentingnya peran orangtua mengenai edukasi terhadap anaknya. Sebagai salah satu sumber daya manusia penerus bangsa kelak, tentunya anak-anak harus sudah diperkenalkan dengan buku bacaan yang tentunya relevan dengan usia mereka. Disamping pemerintah harus bekerja keras membangun pemerataan kualitas sarana prasarana perpustakaan sampai wilayah terpencil dan terpelosok. Persoalan lain adalah pemerintah juga harus gencar membuat sosialisasi atau pemahaman kepada orangtua untuk dapat mengedukasi anak-anak mereka terhadap kegemaran membaca. Karena tidak dapat kita pungkiri bahwa keluarga adalah institusi terkecil, dimana anak dapat membentuk karakternya sampai pada nantinya dia bersosialisasi pada intitusi yang lebih besar lagi dari keluarga.

Jadi, inti dari pada pembahasan opini saya ini adalah bahwa sumber daya manusia yang berkualitas adalah kunci kemajuan suatu bangsa. Dengan melibatkan ilmu pengetahuan dan pengembangan budaya bangsa tentunya itu akan jauh lebih baik. Dan saya rasa pemerintah mana pun tidak akan mengalami kerugian untuk dapat berinvestasi pada peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas, karena nanti hasilnya juga akan dirasakan oleh negara itu sendiri. Mengenai persoalan peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas tentunya pemerintah juga tidak dapat bergerak sendiri, perlu adanya peran stakeholder untuk dapat mewujudkan itu semua, keluarga adalah salah satunya sebagai institusi terkecil. 

Comments