Membangun Kepedulian dengan Menyamakan Pemahaman mengenai Stunting guna Menyambut Capaian Bonus Demografi dan Indonesia Emas 2045
Tulisan ini saya buat dengan alasan sebagai salah satu bentuk usaha saya sebagai pemuda dengan menjadi peer education, kurang lebih katakan saja begitu. Menunjukkan adanya kepedulian kita terhadap sesama, kepedulian kita terhadap nasib bangsa ini untuk kedepannya. Melalui tulisan ini saya ingin menarasikan apa yang saya dapatkan pada sebuah acara webinar yang menurut saya pribadi begitu sangat menarik dan tentunya bermanfaat, hingga saya merasa sayang sekali apabila pengetahuan dan juga informasi pada acara webinar tersebut tidak saya bagikan. Tentunya materi-materi yang disampaikan langsung dari narasumber yang berkompeten di bidangnya, maka sudah seharusnya kita bisa berbuat kebaikan salah satunya melalui berbagi pengetahuan dan juga informasi.
Adapuns sharing pengetahuan dan informasi yang saya ingin bagikan adalah mengenai topik stunting. Topik tersebut dibawakan pada sebuah acara webinar dengan judul “Anak Muda Cegah Stunting, Memang Bisa?” yang berlangsung pada hari Rabu, 16 Juni 2021 dan teman-teman bisa saksikan webinar tersebut di YouTube Channel BKKBN OFFICIAL.
Baik, sekarang kita langsung saja pada topik pembahasan. Sebelumnya disini saya juga ingin memberikan beberapa poin-poin penting pembahasan yang akan saya narasikan disini. Poin-poin penting tersebut ialah, 1) pemahaman mengenai stunting, 2) kaitannya dengan bonus demografi dan capaian generasi emas 2045 dan 3) masalah-masalah lain seputar kualitas sumber daya manusia (SDM).
Pertama-tama mari kita samakan persepsi atau pemahaman kita semua mengenai stunting itu sendiri. Pengalaman saya pibadi pada saat menyusun skripsi dan turun ke lapangan bertemu dengan masyarakat menanyakan perihal pemahaman atau apa yang mereka ketahui mengenai stunting itu sendiri juga belum begitu baik dan merata. Terdapat perbedaan pemahaman pada masyarakat bahkan ada yang tidak mengetahui sama sekali mengenai apa stunting itu sebenarnya. Pada kesempatan ini saya ingin mencoba meluruskan dan menyamakan persepsi serta pemahaman kita bersama mengenai stunting itu sendiri, yang tentunya ini saya dapatkan dari webinar yang sudah saya bahas sebelumnya di awal tulisan.
Stunting sendiri dikutip pada website resmi BKKBN adalah, kekurangan gizi pada bayi di 1000 hari pertama kehidupan yang berlangsung lama dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Karena mengalami kekurangan gizi menahun, bayi stunting tumbuh lebih pendek dari standar tinggi balita seumurnya. Namun, ada yang perlu ditekankan juga bahwa, stunting itu pasti bertumbuh pendek, sementara yang bertumbuh pendek belum tentu stunting. Jadi, dapat kita sepakati bersama dari persepsi atau pemahaman mengenai stunting itu sendiri ialah, pertama bahwa balita stunting sudah pasti bertumbuh pendek, kedua bahwa balita stunting akan memiliki kemampuan intelektual di bawah rata-rata dan ketiga bahwa balita stunting memiliki resiko lebih besar terserang penyakit di masa tuanya. Kiranya ketiga hal tersebut yang menjadi poin penting terkait persepsi dan pemahaman mengenai stunting yang harus kita pahami dan diharapkan dapat memiliki keseragaman pemahaman mengenai stunting itu sendiri di tengah masyarakat.
Melanjutnya pembahasan di atas, sesuai dengan judul pada webinar yakni stunting di Indonesia dan pentingnya perencanaan kehidupan berkeluarga bagi generasi muda. Bahwa salah satu lembaga pemerintah, yakni BKKBN berupaya dan berusaha keras dalam menangani masalah stunting ini. Di mulai dari sosialisasi kepada kalangan pemuda atau remaja, mengenai pentingnya perencanaan kehidupan berkeluarga yang harus terencana dengan baik. Adapun dalam konteks kependudukan, yakni hasil sensus penduduk pada tahun 2020 menunjukkan bahwa generasi muda dan produktif sangat dominan yakni kurang lebih 46% dari total penduduk di Indonesia. Mungkin teman-teman sudah tidak asing lagi mengenai pengelompokkan penduduk dengan istilah generasi-generasi yakni, Generasi Z, Milenial, Generasi X dan Baby Boomer. Adapun menurut BKKBN bahwa generasi Baby Boomer dan generasi X masih dikatakan produktif. Keaktifan dan produktifitas setiap generasi menjadi dambaan kita semua tentunya, mengingat terkait sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas akan mendukung pada capaian bonus demografi yang akan datang.
Bonus demografi sendiri menurut United Nations Population Fund, adalah kondisi ketika masyarakat berusia produktif lebih banyak daripada masyarakat berusia non-produktif. Usia produktif yang dimaksud ialah pada usia 15-64 tahun. Namun, bonus demografi tersebut bisa kita capai dan kita manfaatkan guna pembangunan suatu negara apabila didukung dengan kualitas SDM yang baik. Pada realitanya, negara kita masih diselimuti dengan beberapa kendala untuk bisa mencapai bonus demografi tersebut dengan baik, kendala tersebut salah satunya ialah masalah stunting. Di Indonesia sendiri angka stunting masih di atas batas ketetapan WHO yakni 27,6%. Adapun ketetapan WHO tidak boleh lebih dari batas 20%, berdasarkan acara webinar yang saya ikuti menurut narasumber mengatakan bahwa terjadi peningkatan persentase balita stunting sebesar 32,5% di masa pandemi sekarang ini.
Berbicara mengenai kualitas SDM hingga dapat mendukung capaian bonus demografi dan capaian generasi emas 2045 terdapat masalah lain yang menghambat hal tersebut selain masalah stunting. Masalah lain yakni diantaranya ialah, mental emotional disorders, yang mana banyak generasi-generasi muda yang menjadi tidak produktif. Hal lain seperti masalah mengenai autisme, difabel, kecanduan narkotika dan ODGJ (orang dengan gangguan jiwa). Masalah-masalah tersebut menjadi tantangan kita bersama untuk dapat segera diselesaikan guna menyambut Indonesia emas 2045.
Putri Wulandari, sekarang tinggal di Depok.
Sumber:
Pemaparan Materi Webinar BKKBN dengan tema “Anak Muda Cegah Stunting, Memang Bisa?” (YouTube Channel: BKKBN OFFICIAL)
Comments
Post a Comment