SEBERAPA RELEVAN AGENDA GLOBAL SAAT INI UNTUK NEGARA DENGAN LATAR BELAKANG KOLONIALISME SEPERTI INDONESIA
Mengutip konsep dari Andre Gunder Frank mengenai Teori Ketergantungan, yakni menurut Frank bahwa negara Dunia Ketiga tidak akan dapat dan tidak perlu mengikuti arah pembangunan negara-negara Barat, karena mereka memiliki pengalaman kesejarahan yang berbeda, yang negara Barat tidak pernah merasakan sebelumnya. Dalam kalimat yang lebih jelas, negara-negara Barat tidak pernah mengalami kolonialisme. Sedangkan negara-negara Dunia Ketiga merupakan negara bekas jajahan negara-negara Barat. Lalu dijelaskan juga oleh Frank bahwa negara Dunia Ketiga memiliki faktor eksternal yang berpengaruh pada pembangunan negara Dunia Ketiga. Pada akhirnya Frank merumuskan konsep “mewujudkan keterbelakangan” (development of underdevelopment). Bahwa suatu keterbelakangan bukan suatu hal yang alami, melainkan adanya sesuatu barang ciptaan dari sejarah dominasi kolonial yang panjang yang dialami oleh negara Dunia Ketiga.
Melihat konsep dari Frank tersebut, maka di sini saya mencoba menggunakan salah satu konsep kebijakan global yakni Sustainable Development Goals (SDGs) atau bisa disebut agenda 2030 tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB).
Berawal dari peraturan sebelumnya yakni Millennium Development Goals (MDGs) dan berlanjut menjadi Sustainable Development Goals (SDGs). SDGs sendiri memiliki 17 tujuan yang bersifat lebih holistik dan komprehensif dari pada MDGs sebelumnya. Pada agenda global satu ini saya mencoba mengambil beberapa point dari 17 tujuan tersebut yakni mengenai capaian pengentasan kemiskinan, kematian bayi dan ibu. Adapun kasus yang dibahas adalah permasalahan stunting yang di klaim WHO terjadi di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. WHO sendiri sudah menetapkan batasan persentase kasus stunting yang berlaku untuk semua negara yakni sebesar 20%. Apabila suatu negara tidak bisa mencapai target yang sudah ditetapkan tersebut, maka negara tersebut belum bisa dikatakan mencapai agenda 2030 tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs.
Mengapa saya mengambil salah satu contoh permasalahannya yakni stunting, karena kebetulan penelitian skripsi saya membahas permasalahan stunting. Ditambah lagi dengan beberapa temuan di lapangan bahwa mengenai konsep, pemahaman, dan persepsi mengenai stunting sendiri belum merata pada semua kalangan masyarakat. Pemerintah sendiri sudah memiliki pemahaman atau bisa dikatakan pedoman mengenai konsep stunting yang tertuang pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 1995/MENKES/SK/XII/2010 Tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Hanya saja sosialisasinya belum merata sampai pada seluruh lapisan masyarakat.
Adanya temuan lain yakni, mengenai jumlah data stunting yang tidak merepresentasikan fakta yang sebenarnya dilapangan. Ada beberapa masyarakat yang tidak terima apabila anaknya tersebut disebut stunting, dan ada juga masyarakat yang meragukan data, karena ia sendiri melihat kondisi di lingkungannya baik-baik saja. Lalu dari beberapa masalah tersebut, maka saya berasumsi bahwa bagaimana mungkin pemerintah sibuk mengurusi penurunan angka stunting di Indonesia, demi untuk mencapai agenda 2030 tujuan pembangunan berkelanjutan, tetapi di sisi lain pada tatanan mikro yakni masyarakat belum paham apa yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal kaitannya ini permasalahan stunting.
Mencoba mengalisis permasalahan tersebut dengan mennggunakan konsep Frank mengenai Teori Ketergantungan tadi bahwa saya beranggapan, seharusnya pemerintah tidak perlu harus mengikuti aturan global mengenai agenda 2030 tujuan pembangunan berkelanjutan tersebut. Karena, kondisi serta situasi yang sebenarnya terjadi tidak sama dengan negara lain (terlebih negara-negara Barat), dan seharusnya kita dapat membuat model pembangunan sendiri tanpa harus mengikuti secara penuh agenda global tersebut. Karena bisa saja, karena terlalu sibuk atau hanya memikirkan bagaimana cara agar dapat memenuhi target yang dibuat oleh pihak global tersebut, lantas Indonesia hanya menyelesaikan masalah dengan sifatnya yang sementara bukan menyelesaikan pada akar permasalahan yang ada.
Comments
Post a Comment