Cerpen Saya #1

Euforia Selepas Sidang Skripsi Selesai: Terbitlah Masalah Pengangguran

Masalah pengangguran merupakan masalah dari sekian banyak masalah yang ada di negeri ini. Tapi kita harus optimis untuk bisa menyelesaikan masalah tersebut. Kalian dan pastinya saya harus turut andil ya dalam menyelesaikan masalah pengangguran ini.

Merayakan salah satu keberhasilan capaian dalam hidup memang sah-sah saja, sangat manusiawi. Momen sidang skripsi misalnya, dari sebelum sidang kita sudah merasakan nervous bahkan sampai keringet dingin dan harap-harap cemas menunggu bagaimana hasil dari sidang skripsi. Mengingat kembali bagaimana perjuangan dalam menyusun skripsi yang begitu berwarna dan juga mengasyikan tentunya. Menjadi suatu kelegaan tersendiri karena kita mampu melewati itu semua. Alhamdulillah, rasa syukur yang tak henti-hentinya terucap.

Tetapi, dibalik kegembiraan dalam perayaan kelulusan sidang skripsi otw wisuda yang tidak tau kapan akan terlaksana karena masih di tengah pandemi covid-19. Perlu rasanya kita memikirkan aspek lain, maksudnya ya jangan terlalu berlebihan aja sih dalam merayakan kelulusan itu tadi. Karena perjuangan yang sebenarnya dan pertarungan kehidupan yang baru akan dimulai. Apalagi kalau bukan memikirkan setelah lulus ini kita mau ngapain? lanjut S2 aja, mau kerja dulu, atau bahkan mau langsung nikah. Ya semua pilihan itu tidak ada yang salah, disesuikan aja sama kebutuhan masing masing.

Kalau saya pribadi sih mau kerja dulu, dan kayaknya banyak juga ya yang memilih pilihan itu. Entah karena ingin membantu perekonomian keluarga supaya bisa membahagiakan orang tua dan orang-orang terkasih, atau ingin merasakan gimana sih rasanya cari uang sendiri biar bisa ditabung buat rabi misalnya, dan masih banyak lagi mungkin ya kan harapan serta impian setiap individu berbeda-beda.

Tetapi, dibalik bagaimana cara kita bisa mewujudkan harapan serta impian kita tadi melalui usaha untuk mendapatkan uang dari sebuah pekerjaan. Terlebih lagi untuk mendapatkan pekerjaan yang baik dan sesuai dengan keinginan kita juga tidak mudah, ditambah lagi dengan situasi dan kondisi masih di tengah pandemi seperti ini. Timbul deh masalah klasik yakni pengangguran.

Saya pun mencoba mencari-cari info mengenai data angka pengangguran di Indonesia baru-baru ini. Faktanya pun begitu memprihatinkan, dikutip pada berita-berita online, detik.com misalnya memberitakan bahwa ancaman pengangguran di Indonesia tembus angka 12 juta orang ada di depan mata, lalu dari kompas.com memberitakan bahwa Bappenas memprediksi jumlah angka pengangguran tahun ini mencapai 11 juta orang.

Data dari BPS tahun 2020 sendiri menyebutkan bahwa pada Februari 2020, ada sebanyak 131,03 juta orang adalah penduduk bekerja dan sebanyak 6,88 juta orang menganggur. Lalu, untuk penyerapan tenaga kerja hingga Februari 2020 masih didominasi oleh penduduk bekerja berpendidikan rendah (SD ke bawah) sebanyak 50,96 juta orang (38,89 persen). Hal yang mencengangkan ternyata, untuk persentase penduduk bekerja yang bependidikan tinggi (Diploma dan Universitas) hanya sebesar 13,02 persen. Sebuah fakta sosial yang memang begitu adanya. 

Saya pribadi pun merasa miris dan sedih membaca berita dan data demikian, karena saya pun juga sedang berjuang untuk bisa segera mendapatkan pekerjaan, supaya mempunyai penghasilan sendiri agar dapat bertahan hidup. Namun, saya pun juga berfikir kenapa bisa keadaannya demikian, kenapa malah justru mereka yang tamatan Diploma dan Universitas tidak terserap banyak sebagai tenaga kerja. Saya pun kembali berfikir juga sambil mengingat kembali ucapan-ucapan dari banyak kalangan mengenai permasalahan ini. Dimulai dari mindset mereka yang mengharapkan agar bisa bekerja di perkantoran atau pns, biar masa tuanya bahagia, ada juga karena setelah lulus jadi Sarjana terlalu memilih jenis pekerjaan karena gengsi, atau karena memang persaingan yang begitu ketat antar sesama Sarjana yang jumlahnya begitu banyak namun lapangan pekerjaan yang tidak sebanding, atau juga karena skill yang dimiliki tidak sesuai dengan kebutuhan dunia pekerjaan. 

Entahlah, yang pasti saya pribadi pun merasa tertampar akan adanya keadaan demikian dan menjadi bahan renungan. Di tengah kondisi yang sulit seperti ini, kita dipaksa untuk mencari cara lain agar bisa tetap produktif dan kalau bisa mendapatkan penghasilan dari produktifitas itu tadi. Karena kita tidak bisa hanya mengandalkan untuk bisa bekerja di perkantoran dan lain-lain itu, karena persaingan yang sangat ketat dan juga ketersediaan lapangan pekerjaan yang tidak sebanding.

Comments